Halaman

Minggu, 27 Oktober 2013

makalah tentang perang salib

BAB I
PERANG SALIB

A.    PERISTIWA PERANG SALIB
Perang salib yang terjadi pada tahun 1096-1291 merupakan bentuk reaksi dari dunia Kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia. Islam dianggap sebagai pihak penyerang, bukan hanya di Siria dan Asia kecil, tetapi jiga di Spayol dan Sisilia. Disebut perang salib karena ekspedisi militer Kristen yang menggunakan salib sebagai symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis ( Yerussalem) dari tangan orang orang Islam.[1]
Penyebab langsung terjadinya perang Salib adalah permintaan kaisar Alexius Connenus pada tahun 1095 kepada Paus Urbanus II. Kaisar dari Bizantum meminta bantuan dari Romawi karena daerah-daerah yang tersebar sampai pada pesisir Marmona dibinasakan oleh bani Saljuk
     Pidato Paus Urban yang disampaikan di Clermont, pada tanggal 26 November 1095, ini mampu menyulut terjadinya perang salib. Isi pidato ini memerintahkan orang-orang Kristen agar “ Memasuki lingkungan Makam suci, merebut dari orang –orang jahat dan menyerahkannya kembali kepada mereka.” Orang-orang yang hadir di sana meneriakkan slogan Deus Vult (Tuhan menghendaki) sambil mengacungkan tangan. Pada musim semi 1097, tentara perang salib yang berjumlah 150.000 yang sebagian besar terdiri dari orang Franka dan Norman dan lainnya dari rakyat biasa, menyambut seruan untuk berkumpul di Konstatinopel. Pada saat itulah genderang perang salib pertama kali ditabuh.[2]

  1. SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERANG SALIB
1.      Perang salib terjadi karena adanya konflik lama antara Timur dan Barat yakni antara orang-orang Islam dengan orang Kristen.konflik tersebut disebabkan kerena keinginan masing-masing pihak untuk saling menguasai. Kemunculan Islam yang begitu berkembang pesat menjadi goncangan bagi bangsa Eropa Kristen.
2.      Gerakan ekspansi yang dikenal dengan peristiwa Manzikert yang dilakukan oleh Alph Arselan dimana berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 ini menanamkan permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen kepada orang islam. Kebencian itu semakin betambah saat bani Saljuk di Syria dapat merebut Baitu Maqdis dari dinasti Fathimiyyah. Penguasa dinasti Saljuk ini menetapkan beberapa peraturan bagi kaum Kristen yang ingin berziarah kesana. Peraturan ini sangat menyulitkan mereka.
3.      Laut tengan yang menjadi jalur perdagangan Internasional dikuasai oleh orang Islam. Sehingga lintas perdagangan orang Kristen terhambat. Dengan demikian perang salib salah satu pemicunya adalah adanya persaingan ekonomi.
4.      Orang-orang Kristen yang melakukan ziarah ke Yerussalem pada abad ke II semakin banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena Yerussalem dan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki, maka tidak jarang daripeziarah yang mendapatkan perlakuakn tidak baik. Informasi mengenai itu akhirnya tersebar secara berlebihan sehingga menimbulkan reaksi atas orang-orang Kristen di seluruh dunia.

  1. RANGKAIAN PERANG SALIB
Perang salib ini terjadi dalam tiga periode :
1.      Periode pertama
1095
Perang salib pada periode ini di pimpin oleh godfredy, Bohemond, dan Raymod ini mendapatkan keberhasilan menaklukan Yerussalem dan palestina. Dimana tentara di pihak Kristen berjumlah 150.000
1097
Nicea berhasil di taklukan orang Kristen
1098
Raha berhasil ditaklukan
1099
Baitul Maqdis mampu mereka kuasai dan mereka mendirikan kerajan Latin III dan rajanya adalah Godfrey

2.      Periode kedua
1144
Imad al Din Zanki yang merupakan penguasa Moshul dan Iak berhasil menaklukan kembali Aleppo dan menaklukan Humaymah dan Adessa
1149
Nuruddin, putra Imad al Din Zanki berhasil merebut kembali An-tiochea
1151
Seluruh Edessa dapat direbut orang Islam kembali. Jatuhnya Edessa ini menyebab orang Kristen menyebarkan perang salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci kembali yang disambut positif oleh raja Prancis, Luis VII dan Conrad. Keduanya memimpin pasukan salib untuk menaklukan Syria, tetapi dihalangi oleh Nur al Din Zanki
1174
Nur al Din Zanki wafat lalu pasukan muslim dipimpin Shalahuddin al Ayyubi.
1187
Keberhasilan besar yang diperoleh oleh Salahudin al ayyubi adalah merebut yerussalem kembali dalam perang Hiththin. Dengan demikian kerajaan latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun telah berakhir.
02 November 1192
Salahudin al ayyubi dan tentara salib melakukan perjanjian yang disebut dengan shulh al Ramlah. Perjanjian ini berisi, bahwa orang Kristen yang berziarah di Baitul Maqdis maka tidak akan di ganggu.

3.      Periode ketiga
Pada periode ini tentara salib di pimpin oleh raja jerman Federick II. Kali ini mereka berusaha menyerbu Mesir dahulu sebelum Palestina.
1219
Tentara salib mampu menduduki Dimyat. Raja mesir saat itu adalah Malik al Kamil. Dia melaukan perjanjian dengan Federick. Isi diantara lainnya adalah federick mau melepaskan Dimyat dan Malik melepaskan Palestina
1247
Palestina direbut kembali oleh kaum muslim dimasa pemerintahan Malik al Shalih

  1. AKIBAT  PERANG SALIB
Perang salib menimbulkan beberapa akibat penting dalam sejarah dunia. Perang salib membawa eropa kedalam kontak langsung dengan dunia muslim dan terjalinnya hubungan antara timur dan barat yang menimbulkan saling tukar pikiran antara kedua belah pihak.
Keuntungan perang salib bagi eropa adalah menambah lapangan perdagangan, mempelajari kesenian, dan penemuan penting, seperti kompas pelaut, kincir angin dan sebagainya dari orang islam. Mereka juga dapat mengetahui cara bertani yang maju dan mempelajari kehidupan industri timur yang lebih berkembang.
Pada peristiwa perang salib ini banyak membawa dampak kerugian bagi umat islam yaitu:
5.      Umat islam mengalami banyak kerusakan karena perang  ada di daerah kekuasaan Islam.
6.      Kekuatan politik semakin lemah. Kondisi ini bukan membuat kaum muslimin bersatu akan tetapi malah saling berebut kekuasaan dengan kendaraan politik yang lagi melemah.
7.      Peradaban Islam terhambat kemajuannya. Akibat adanya pertikaian yang berkelanjutan dengan pihak salib (kristen/perang salib) menyita banyak perhatian luar biasa. Juga adanya perebutan kekuasaan dikalangan kaum muslimin. Sehingga perhatian kaum muslimin terhadap kemajuan peradaban umat Islam terabaikan dengan adanya masalah perebutan kekuasaan dan perang.
Salah satu kerugian terbesar yang dirasakan oleh umat Islam adalah taktik yang diterapkan oleh pihak salib yaitu rebut dan bumi hangus. Dimana kaum salib sebagai penyerang akan berusaha merebut daerah Islam dengan segala isinya. Mereka memprioritaskan pada khazanah keilmuan yang pada waktu itu menjadi simbol kemajun peradaban umat Islam. Sedang kaum muslim mempunyai tradisi dalam perangnya dikuti pula oleh cendekiawan-cendekiawan sebagai salah satu penasehat strategi. Sehingga takala Islam kalah buku-buku dan cendekiawan muslim itu ditawan atau dibunuh sehingga itu sangat merugikan dunia Islam dan masa depannya. Karena para cendekiawan muslim adalah aset berharga umat Islam semua.
Akan tetapi sebaliknya apabila mereka berperang (pihak salib), kalau menderita kekalahan mereka akan dan membumi hanguskan dokumen-dokumen penting terutama terkait dengan bidang keilmuan. Dengan tujuan agar mereka yang mendapatkan daerah mereka akan hanya mendapat abu dan kehancuran. Hal ini yang menjadikan kemenangan umat Islam hanya hanya bersifat kuantitatif bukannya kualitatif.  


BAB II
MASA KEKUASAAN BANGSA MONGOL

  1. SILSILAH BANGSA MONGOL
Pelopor bangsa Mongol ialah Yegusay, ayah dari Chinggis Khan. Nama jelas Chinggis Khan ialah Temujin lahir pada tahun 154 M dan memproklamasikan sebagai Khan (raja).
Dalam tulisan Ali Mufrodi dijelaskan bahwa asal mula bangsa Mongol ialah dari masyarakathutan yang mendiami Siberia dan Mongol luar di sekitar Danau Baikal. Pemimpin atau Khan bangsa Mongol pertama yang diketahui dalam sejarah adalah Yegusay (w.1175). Ia adalah ayah Chinggis (Chingiz atau Jengis). Chinggis nama aslinya Temujin, seorang pandai besiyang mencuat namanyakarena menenangkan perselihihan dengan Ong Khanatau Togril, seorang kepala suku kereyt. Sebenarnya Chinggis adalah gelar bagi Temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi bangsa itu pada tahun 1206, atau disebut Chingis Khan/Raja yang Agung, ketika itu ia berumur 44 tahun[3].

  1. PERISTIWA INVANSI BANGSA MONGOL
Peristiwa Invansi Bangsa Mongol terjadi diujung kekuasaan Dinasti Abbasiyah (1258 M). Salah satu kekalahan dan kemunduran yang dialami oleh umat islam secara politik dan khazanah keilmuan. Karena dalam melakukan invansi, Hulagu Khan penguasa Bangsa Mongol, mengadakan bumi hangus terhadap kota Baghdad secara keseluruhan.
Kekalahan Islam dalam invansi Bangsa Mongol karena sikap picik yang ingin berkuasa dari orang dekat Khalifah pada waktu itu dengan minta bantuan Mongol. Salah satunya adalah Ibnu Al-Alqami seorang wasir. Tapi akhirnya tetap dibunuh Hulagu Khan kehancuran peradaban Islam, kota Baghdad sebagai simbolnya, yaitu Hancurnya kota Baghdad dan segala fasilitas yang ada rata dengan tanah. Hal ini juga terjadi di daerah-daerah yang dilewati oleh pasukan Mongol. Bahkan lebih besar kerugian umat Islam dengan terbakarnya Perpustakaan Terbesar pada masa Dinasti Abbasiyah, atau Khazanah keilmuan terbesar umat Islam pada saat itu. Bangsa Mongol membakar semua buku yang ada  di perpustakaan dan melemparkannya kesungai. Sehingga isa dijadikan jembatan untuk lewat pasukan berkuda.
Proses penguasaan oleh tentara Hulagu Khan terhadap daerah-daerah sekitar Baghdad sampai Syiria dan Mesir. Sebelum mengmbil kekuasaan Islam di mesir mereka keburu dikalahkan oleh tentara Muslim di daerah Galilie dan mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Mamalik (1260 M).
Keklahan itu tidak menghilang kekuasaan Hulagu Khan atas Baghdad dan daerah sekitarnya, dulu dikuasai Dinasti Abbasiyah. Tetapi hanya menghentikan nafsu ingin meluaskan daerah dari pasukan Mongol. Selanjutnya Baghdad dikuasai Dinasti Ilkhan. Dengan pusat kekuasaan Hulagu Khan dipindahkan di tabriz. Mulai saat itu umat Islam diperintah oleh raja yang eragama Syamanisme yang berlangsung selama 23 tahun (1265-1282 M). Pada yang ketiga yang memeluk agama Islam yaitu Ahmad Teguder (1282-1284 M) selama memegang kekuasaan diwarnai dengan konlik dengan penguasa daerah lain yang beragama non muslim sehinga perhatian terhadap kemajuan peradaban umat Islam sangatlah kecil.
Umat Islam mengalami kemajuan kembali setelah diperintah Mahmud Ghazan (1295-1304 M), raja yang ketujuh beragama Islamdari Dinasti Ilkhan. Ia seorang raja yang sangat intens dengan dunia ilmu dan sangat membantu majunya peradaban Islam. Antara lain dibangunnya gedung-gedung sekolah, laboratorium, gedung observasi bahkan memberi ruang gerak bagi  perkembangan Madzab Syafi’i dan Hanafi.
Sesudah itu penggantinya Mahmud Ghazan mempunyai sikap yang kurang perhatian dengan kemajuan peradaban umat Islam pada waktu itu. Mereka terlalu fanatik terhadap aliran yang dianutnya, yakni Syi’ah, yang bersifat mistis dan lemah dalam karya ilmiah. Dan akhirnya kerajaan dan daerah kekuasaan Dinasti Ilkhan terpecah-pecah sampai akhirnya harus menyerah atas serangan Timur Lenk yang ganas.
Timur Lenk adalah Raja dari Bangsa Mongol yang beragama Islam keturunan Jengis Khan. Disamping sikap ganasnya Timur Lenk termasuk penganut Syi’ah yang taat. Ia juga seorang sufi dengan aliran Tarekat Naqshabandi yang ada waktu itu. Timur Lenk juga seorang penguasa yang pawai karena juga bisa mengtur administrasi pemerintahannya dan tentaranya secara rasional sehingga bisa dinamis dalam pencapaian keberhasilannya. Timur Lenk meninggal pada usia 71 (1404 M) dan dimakamkan di Samarkand.
  1. BATAS KEUASAAN MONGOL
Wilayah kultur Arab menjadi jajahan Mongol setelah Baghdad ditaklukkan oleh Hulagu Khan pada tahun 1258. Ia membentuk kerajaan II Khaniyah yang berpusat di Tabriz dan Maragha.
Sebagian wilayah II Khaniyah di kawasan kebudayaan Arab, seperti Irak, Kurdistan, dan Azerbaijan, diwarisi oleh Dinasti Jalariyah. Dinasti ini didirikan oleh Hasan Buzurg  (Agung) yang dibedakan engan Hasan Kuchuk (kecil) dari Dinasti Chupaniyah musuh bebuyutan yang memerintah sebagai gubernur di Anatolia di bawah Sultan Abu Sa’id, penguasa terakhir Dinasti II Khaniyah. Hasan Buzurg akhirnya menundukkan Chupaniyah, walaupun ia masih harus mengakui kekuasaan II Khaniyah dan memusatkan kekuasaannya di Baghdad. Di masa Uways, pengganti Hasan memiliki kedaulatan secara penuh. Ia dapat menundukkan Azerbaijan, namun mendapat perlawanan dari Dinasti Muzafariyah dan khan-khan Horde keemasan. Mereka akhirnya dikalahkan oleh Qara’ Quyunlu[4].

  1. AKIBAT SERANGAN MONGOL TERHADAP ISLAM
Akibat yang terjadi terutama pasca Baghdad jatuh ke Mongol ada 2, yaitu dampak positif dan dampak negatif.
Dampak negatifnya tentunya lebih banyak bila dibandingkan dampak positifnya. Kehancurn jelas dimana-mana akibat serangan Mongol sejak wilayah timur hingga barat. Kehncuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi umat Islam. Pembunuhan terhadap umat Islam terjadi, bukan hanya pada masa Hulagu yang membunuh Khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan dilakukan juga terhadap umat Islam yang tidak berdosa, seperti yang dilakukan oleh Argun, Khan keempat pada Dinasti II Khaniyah terhadap Takudar sebagai Khan ketiga yang dihukum bunuh karena masuk Islam. Argun membunuh umat Islam dan mencopotnya dari jabatan-jabatan penting negara. Syamsuddin, seorang Shohibud Dewan (administrator) dari keluarga Juwaini yang tersohor dihukum mati tahun 1284. Syihabbuddin, penggantinya juga dibunuh tahun 1289, dan Sa’id Ad-Daulah yang orang Yahudi dihukum mati pada tahun 1289.
Ada pula dampak positif dengan berkuasanya Dinasti Mongol ini setelah para pemimpinnya memeluk agama Islam.  Antara lain disebabkan mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat muslim dalam jangka waktu yang panjang, seperti yang dilakukan oleh Gaza Khan (1295-1304) yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaannya, walaupun ia pada mulanya beragama budha. Rupanya ia telah mempelajari ajaran agama-agama sebelum menetapkan keislamannya, dan yang lebih mendorongnya masuk Islam ialah pengaruh seorang  menterinya, Rasyiduddin yang terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan Nawruz, seorang gubernurnya untuk beberapa provinsi Sria. Ia menyuruh kaum Kristen dan Yahudi untuk membayar jizyah dan memerintahkan mencetak uang yang bercirikan Islam, melarang riba dan menyuruh para pemimpinnya menggunakan sorban. Ia gemar pada seni dan ilmu pengetahuan menguasai beberapa bahasa, seperti Mongol, Arab, Persia, Cina, Tibet, dan Latin. Ia meninggal ketika masih berumur 32 tahun, karena tekanan batin yang berat sehingga ia sakit dan menyebabkan kematiannya ketika pasukannya kalah di Siria dan munculnya sebuah komplotan yang berusaha untuk mengusirnya dari kekuasaannya. Sepeninggal Gazan digantikan oleh Uljaitu Khuda Banda (305-1316) yang memberlakukan aliran Syi’ah sebagai hukum resmi kerajaannya.Ia mendirikan ibu kota baru yang bernama Sultaniyah dekat Qazwain yang dibangun dengan arsitektur khas II Khaniyah. Banyak koloni dagang Italia terdapat di Tabriz dan II Khaniyah menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara dunia barat dan india serta timur jauh. Namun, perselisihan dalam keluarga Dinasti II Khaniyah menyebabkan runtuhnya kekuasaan mereka[5].





[1] Philip K. Hitti op.cit, hlm, 635
[2] Ibid
[3] Such as Seljukian and Gaznavides, see Syed Amir Ali, History of the Saracens,  New Delhi, kitab Bhayan, 1981, hlm 38-384
[4] Ali Mufrodi, op. Cit, hlm, 132, lihat pula Bosworth, op. Cit., hlm 188-189
[5] Ibid, hlm 133-134

Tidak ada komentar:

Posting Komentar