BAB I
PERANG SALIB
A. PERISTIWA PERANG
SALIB
Perang salib yang terjadi pada tahun 1096-1291
merupakan bentuk reaksi dari dunia Kristen di Eropa terhadap dunia Islam di Asia . Islam dianggap sebagai pihak penyerang, bukan hanya
di Siria dan Asia kecil, tetapi jiga di Spayol
dan Sisilia. Disebut perang salib karena ekspedisi militer Kristen yang
menggunakan salib sebagai symbol pemersatu untuk menunjukkan bahwa peperangan
yang mereka lakukan adalah perang suci dan bertujuan untuk membebaskan kota suci Baitul Maqdis (
Yerussalem) dari tangan orang orang Islam.[1]
Penyebab langsung terjadinya perang Salib adalah
permintaan kaisar Alexius Connenus pada tahun 1095 kepada Paus Urbanus II.
Kaisar dari Bizantum meminta bantuan dari Romawi karena daerah-daerah yang
tersebar sampai pada pesisir Marmona dibinasakan oleh bani Saljuk
Pidato Paus
Urban yang disampaikan di Clermont, pada tanggal 26 November 1095, ini mampu
menyulut terjadinya perang salib. Isi pidato ini memerintahkan orang-orang
Kristen agar “ Memasuki lingkungan Makam suci, merebut dari orang –orang jahat
dan menyerahkannya kembali kepada mereka.” Orang-orang yang hadir di sana meneriakkan slogan
Deus Vult (Tuhan menghendaki) sambil mengacungkan tangan. Pada musim semi 1097,
tentara perang salib yang berjumlah 150.000 yang sebagian besar terdiri dari
orang Franka dan Norman dan lainnya dari rakyat biasa, menyambut seruan untuk
berkumpul di Konstatinopel. Pada saat itulah genderang perang salib pertama
kali ditabuh.[2]
- SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERANG SALIB
1.
Perang salib terjadi karena adanya
konflik lama antara Timur dan Barat yakni antara orang-orang Islam dengan orang
Kristen.konflik tersebut disebabkan kerena keinginan masing-masing pihak untuk
saling menguasai. Kemunculan Islam yang begitu berkembang pesat menjadi
goncangan bagi bangsa Eropa Kristen.
2.
Gerakan ekspansi yang dikenal
dengan peristiwa Manzikert yang dilakukan oleh Alph Arselan dimana berhasil
mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 ini menanamkan permusuhan dan
kebencian orang-orang Kristen kepada orang islam. Kebencian itu semakin
betambah saat bani Saljuk di Syria
dapat merebut Baitu Maqdis dari dinasti Fathimiyyah. Penguasa dinasti Saljuk
ini menetapkan beberapa peraturan bagi kaum Kristen yang ingin berziarah
kesana. Peraturan ini sangat menyulitkan mereka.
3.
Laut tengan yang menjadi jalur
perdagangan Internasional dikuasai oleh orang Islam. Sehingga lintas
perdagangan orang Kristen terhambat. Dengan demikian perang salib salah satu
pemicunya adalah adanya persaingan ekonomi.
4.
Orang-orang Kristen yang melakukan
ziarah ke Yerussalem pada abad ke II semakin banyak dibandingkan tahun-tahun
sebelumnya. Karena Yerussalem
dan Palestina berada di bawah kekuasaan Turki, maka tidak jarang daripeziarah
yang mendapatkan perlakuakn tidak baik. Informasi mengenai itu akhirnya
tersebar secara berlebihan sehingga menimbulkan reaksi atas orang-orang Kristen
di seluruh dunia.
- RANGKAIAN PERANG SALIB
Perang salib
ini terjadi dalam tiga periode :
1. Periode pertama
|
1095
|
Perang salib
pada periode ini di pimpin oleh godfredy, Bohemond, dan Raymod ini mendapatkan
keberhasilan menaklukan Yerussalem dan palestina. Dimana tentara di pihak
Kristen berjumlah 150.000
|
|
1097
|
Nicea berhasil
di taklukan orang Kristen
|
|
1098
|
Raha berhasil
ditaklukan
|
|
1099
|
Baitul Maqdis
mampu mereka kuasai dan mereka mendirikan kerajan Latin III dan rajanya
adalah Godfrey
|
2. Periode kedua
|
1144
|
Imad al Din
Zanki yang merupakan penguasa Moshul dan Iak berhasil menaklukan kembali
|
|
1149
|
Nuruddin,
putra Imad al Din Zanki berhasil merebut kembali An-tiochea
|
|
1151
|
Seluruh Edessa
dapat direbut orang Islam kembali. Jatuhnya Edessa ini menyebab orang Kristen
menyebarkan perang salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci
kembali yang disambut positif oleh raja Prancis, Luis VII dan Conrad.
Keduanya memimpin pasukan salib untuk menaklukan
|
|
1174
|
Nur al Din
Zanki wafat lalu pasukan muslim dipimpin Shalahuddin al Ayyubi.
|
|
1187
|
Keberhasilan
besar yang diperoleh oleh Salahudin al ayyubi adalah merebut yerussalem
kembali dalam perang Hiththin. Dengan demikian kerajaan latin di Yerussalem
yang berlangsung selama 88 tahun telah berakhir.
|
|
02 November
1192
|
Salahudin al
ayyubi dan tentara salib melakukan perjanjian yang disebut dengan shulh al
Ramlah. Perjanjian ini berisi, bahwa orang Kristen yang berziarah di Baitul
Maqdis maka tidak akan di ganggu.
|
3. Periode ketiga
Pada periode ini tentara salib di pimpin oleh raja jerman Federick II.
Kali ini mereka berusaha menyerbu
Mesir dahulu sebelum Palestina.
|
1219
|
Tentara salib
mampu menduduki Dimyat. Raja
mesir saat itu adalah Malik al Kamil. Dia melaukan perjanjian dengan
Federick. Isi diantara lainnya adalah federick mau melepaskan Dimyat dan
Malik melepaskan Palestina
|
|
1247
|
Palestina
direbut kembali oleh kaum muslim dimasa pemerintahan Malik al Shalih
|
- AKIBAT PERANG SALIB
Perang
salib menimbulkan beberapa akibat penting dalam sejarah dunia. Perang salib
membawa eropa kedalam kontak langsung dengan dunia muslim dan terjalinnya
hubungan antara timur dan barat yang menimbulkan saling tukar pikiran antara
kedua belah pihak.
Keuntungan
perang salib bagi eropa adalah menambah lapangan perdagangan, mempelajari
kesenian, dan penemuan penting, seperti kompas pelaut, kincir angin dan
sebagainya dari orang islam. Mereka juga dapat mengetahui cara bertani yang
maju dan mempelajari kehidupan industri timur yang lebih berkembang.
Pada
peristiwa perang salib ini banyak membawa dampak kerugian bagi umat islam
yaitu:
5.
Umat islam mengalami banyak kerusakan karena
perang ada di daerah kekuasaan Islam.
6.
Kekuatan politik semakin lemah. Kondisi ini bukan
membuat kaum muslimin bersatu akan tetapi malah saling berebut kekuasaan dengan
kendaraan politik yang lagi melemah.
7.
Peradaban Islam terhambat kemajuannya. Akibat
adanya pertikaian yang berkelanjutan dengan pihak salib (kristen/perang salib)
menyita banyak perhatian luar biasa. Juga adanya perebutan kekuasaan dikalangan
kaum muslimin. Sehingga perhatian kaum muslimin terhadap kemajuan peradaban
umat Islam terabaikan dengan adanya masalah perebutan kekuasaan dan perang.
Salah satu
kerugian terbesar yang dirasakan oleh umat Islam adalah taktik yang diterapkan
oleh pihak salib yaitu rebut dan bumi hangus. Dimana kaum salib sebagai
penyerang akan berusaha merebut daerah Islam dengan segala isinya. Mereka
memprioritaskan pada khazanah keilmuan yang pada waktu itu menjadi simbol
kemajun peradaban umat Islam. Sedang kaum muslim mempunyai tradisi dalam
perangnya dikuti pula oleh cendekiawan-cendekiawan sebagai salah satu penasehat
strategi. Sehingga takala Islam kalah buku-buku dan cendekiawan muslim itu
ditawan atau dibunuh sehingga itu sangat merugikan dunia Islam dan masa
depannya. Karena para cendekiawan muslim adalah aset berharga umat Islam semua.
Akan tetapi
sebaliknya apabila mereka berperang (pihak salib), kalau menderita kekalahan
mereka akan dan membumi hanguskan dokumen-dokumen penting terutama terkait
dengan bidang keilmuan. Dengan tujuan agar mereka yang mendapatkan daerah
mereka akan hanya mendapat abu dan kehancuran. Hal ini yang menjadikan
kemenangan umat Islam hanya hanya bersifat kuantitatif bukannya kualitatif.
BAB II
MASA KEKUASAAN BANGSA MONGOL
- SILSILAH BANGSA MONGOL
Pelopor
bangsa Mongol ialah Yegusay, ayah dari Chinggis Khan. Nama jelas Chinggis Khan
ialah Temujin lahir pada tahun 154 M dan memproklamasikan sebagai Khan (raja).
Dalam
tulisan Ali Mufrodi dijelaskan bahwa asal mula bangsa Mongol ialah dari
masyarakathutan yang mendiami Siberia dan Mongol luar di sekitar Danau Baikal.
Pemimpin atau Khan bangsa Mongol pertama yang diketahui dalam sejarah adalah
Yegusay (w.1175). Ia adalah ayah Chinggis (Chingiz atau Jengis). Chinggis nama
aslinya Temujin, seorang pandai besiyang mencuat namanyakarena menenangkan
perselihihan dengan Ong Khanatau Togril, seorang kepala suku kereyt. Sebenarnya
Chinggis adalah gelar bagi Temujin yang diberikan kepadanya oleh sidang
kepala-kepala suku Mongol yang mengangkatnya sebagai pemimpin tertinggi bangsa
itu pada tahun 1206, atau disebut Chingis Khan/Raja yang Agung, ketika itu ia
berumur 44 tahun[3].
- PERISTIWA INVANSI BANGSA MONGOL
Peristiwa Invansi
Bangsa Mongol terjadi diujung kekuasaan Dinasti Abbasiyah (1258 M). Salah satu
kekalahan dan kemunduran yang dialami oleh umat islam secara politik dan
khazanah keilmuan. Karena dalam melakukan invansi, Hulagu Khan penguasa Bangsa
Mongol, mengadakan bumi hangus terhadap kota Baghdad secara keseluruhan.
Kekalahan
Islam dalam invansi Bangsa Mongol karena sikap picik yang ingin berkuasa dari
orang dekat Khalifah pada waktu itu dengan minta bantuan Mongol. Salah satunya
adalah Ibnu Al-Alqami seorang wasir. Tapi akhirnya tetap dibunuh Hulagu Khan
kehancuran peradaban Islam, kota Baghdad sebagai simbolnya, yaitu Hancurnya
kota Baghdad dan segala fasilitas yang ada rata dengan tanah. Hal ini juga
terjadi di daerah-daerah yang dilewati oleh pasukan Mongol. Bahkan lebih besar
kerugian umat Islam dengan terbakarnya Perpustakaan Terbesar pada masa Dinasti
Abbasiyah, atau Khazanah keilmuan terbesar umat Islam pada saat itu. Bangsa Mongol
membakar semua buku yang ada di
perpustakaan dan melemparkannya kesungai. Sehingga isa dijadikan jembatan untuk
lewat pasukan berkuda.
Proses
penguasaan oleh tentara Hulagu Khan terhadap daerah-daerah sekitar Baghdad
sampai Syiria dan Mesir. Sebelum mengmbil kekuasaan Islam di mesir mereka
keburu dikalahkan oleh tentara Muslim di daerah Galilie dan mereka dapat
dikalahkan oleh pasukan Mamalik (1260 M).
Keklahan
itu tidak menghilang kekuasaan Hulagu Khan atas Baghdad dan daerah sekitarnya,
dulu dikuasai Dinasti Abbasiyah. Tetapi hanya menghentikan nafsu ingin
meluaskan daerah dari pasukan Mongol. Selanjutnya Baghdad dikuasai Dinasti
Ilkhan. Dengan pusat kekuasaan Hulagu Khan dipindahkan di tabriz. Mulai saat
itu umat Islam diperintah oleh raja yang eragama Syamanisme yang berlangsung
selama 23 tahun (1265-1282 M). Pada yang ketiga yang memeluk agama Islam yaitu
Ahmad Teguder (1282-1284 M) selama memegang kekuasaan diwarnai dengan konlik
dengan penguasa daerah lain yang beragama non muslim sehinga perhatian terhadap
kemajuan peradaban umat Islam sangatlah kecil.
Umat Islam
mengalami kemajuan kembali setelah diperintah Mahmud Ghazan (1295-1304 M), raja
yang ketujuh beragama Islamdari Dinasti Ilkhan. Ia seorang raja yang sangat
intens dengan dunia ilmu dan sangat membantu majunya peradaban Islam. Antara
lain dibangunnya gedung-gedung sekolah, laboratorium, gedung observasi bahkan
memberi ruang gerak bagi perkembangan
Madzab Syafi’i dan Hanafi.
Sesudah itu
penggantinya Mahmud Ghazan mempunyai sikap yang kurang perhatian dengan
kemajuan peradaban umat Islam pada waktu itu. Mereka terlalu fanatik terhadap
aliran yang dianutnya, yakni Syi’ah, yang bersifat mistis dan lemah dalam karya
ilmiah. Dan akhirnya kerajaan dan daerah kekuasaan Dinasti Ilkhan terpecah-pecah
sampai akhirnya harus menyerah atas serangan Timur Lenk yang ganas.
Timur Lenk
adalah Raja dari Bangsa Mongol yang beragama Islam keturunan Jengis Khan.
Disamping sikap ganasnya Timur Lenk termasuk penganut Syi’ah yang taat. Ia juga
seorang sufi dengan aliran Tarekat Naqshabandi yang ada waktu itu. Timur Lenk
juga seorang penguasa yang pawai karena juga bisa mengtur administrasi pemerintahannya
dan tentaranya secara rasional sehingga bisa dinamis dalam pencapaian
keberhasilannya. Timur Lenk meninggal pada usia 71 (1404 M) dan dimakamkan di
Samarkand.
- BATAS KEUASAAN MONGOL
Wilayah
kultur Arab menjadi jajahan Mongol setelah Baghdad ditaklukkan oleh Hulagu Khan
pada tahun 1258. Ia membentuk kerajaan II Khaniyah yang berpusat di Tabriz dan
Maragha.
Sebagian
wilayah II Khaniyah di kawasan kebudayaan Arab, seperti Irak, Kurdistan, dan
Azerbaijan, diwarisi oleh Dinasti Jalariyah. Dinasti ini didirikan oleh Hasan
Buzurg (Agung) yang dibedakan engan
Hasan Kuchuk (kecil) dari Dinasti Chupaniyah musuh bebuyutan yang memerintah
sebagai gubernur di Anatolia di bawah Sultan Abu Sa’id, penguasa terakhir
Dinasti II Khaniyah. Hasan Buzurg akhirnya menundukkan Chupaniyah, walaupun ia
masih harus mengakui kekuasaan II Khaniyah dan memusatkan kekuasaannya di
Baghdad. Di masa Uways, pengganti Hasan memiliki kedaulatan secara penuh. Ia
dapat menundukkan Azerbaijan, namun mendapat perlawanan dari Dinasti
Muzafariyah dan khan-khan Horde keemasan. Mereka akhirnya dikalahkan oleh Qara’
Quyunlu[4].
- AKIBAT SERANGAN MONGOL TERHADAP ISLAM
Akibat yang
terjadi terutama pasca Baghdad jatuh ke Mongol ada 2, yaitu dampak positif dan
dampak negatif.
Dampak
negatifnya tentunya lebih banyak bila dibandingkan dampak positifnya. Kehancurn
jelas dimana-mana akibat serangan Mongol sejak wilayah timur hingga barat.
Kehncuran kota-kota dengan bangunan yang indah-indah dan
perpustakaan-perpustakaan yang mengoleksi banyak buku memperburuk situasi umat
Islam. Pembunuhan terhadap umat Islam terjadi, bukan hanya pada masa Hulagu
yang membunuh Khalifah Abbasiyah dan keluarganya, tetapi pembunuhan dilakukan
juga terhadap umat Islam yang tidak berdosa, seperti yang dilakukan oleh Argun,
Khan keempat pada Dinasti II Khaniyah terhadap Takudar sebagai Khan ketiga yang
dihukum bunuh karena masuk Islam. Argun membunuh umat Islam dan mencopotnya
dari jabatan-jabatan penting negara. Syamsuddin, seorang Shohibud Dewan
(administrator) dari keluarga Juwaini yang tersohor dihukum mati tahun 1284.
Syihabbuddin, penggantinya juga dibunuh tahun 1289, dan Sa’id Ad-Daulah yang
orang Yahudi dihukum mati pada tahun 1289.
Ada pula
dampak positif dengan berkuasanya Dinasti Mongol ini setelah para pemimpinnya
memeluk agama Islam. Antara lain
disebabkan mereka berasimilasi dan bergaul dengan masyarakat muslim dalam
jangka waktu yang panjang, seperti yang dilakukan oleh Gaza Khan (1295-1304)
yang menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaannya, walaupun ia pada mulanya
beragama budha. Rupanya ia telah mempelajari ajaran agama-agama sebelum
menetapkan keislamannya, dan yang lebih mendorongnya masuk Islam ialah pengaruh
seorang menterinya, Rasyiduddin yang
terpelajar dan ahli sejarah yang terkemuka yang selalu berdialog dengannya, dan
Nawruz, seorang gubernurnya untuk beberapa provinsi Sria. Ia menyuruh kaum
Kristen dan Yahudi untuk membayar jizyah dan memerintahkan mencetak uang yang
bercirikan Islam, melarang riba dan menyuruh para pemimpinnya menggunakan
sorban. Ia gemar pada seni dan ilmu pengetahuan menguasai beberapa bahasa,
seperti Mongol, Arab, Persia, Cina, Tibet, dan Latin. Ia meninggal ketika masih
berumur 32 tahun, karena tekanan batin yang berat sehingga ia sakit dan
menyebabkan kematiannya ketika pasukannya kalah di Siria dan munculnya sebuah
komplotan yang berusaha untuk mengusirnya dari kekuasaannya. Sepeninggal Gazan
digantikan oleh Uljaitu Khuda Banda (305-1316) yang memberlakukan aliran Syi’ah
sebagai hukum resmi kerajaannya.Ia mendirikan ibu kota baru yang bernama
Sultaniyah dekat Qazwain yang dibangun dengan arsitektur khas II Khaniyah.
Banyak koloni dagang Italia terdapat di Tabriz dan II Khaniyah menjadi pusat
perdagangan yang menghubungkan antara dunia barat dan india serta timur jauh.
Namun, perselisihan dalam keluarga Dinasti II Khaniyah menyebabkan runtuhnya
kekuasaan mereka[5].